Minggu, 22 November 2009

Menganalisis aksi demo

Dimanapaun di belahan dunia ini, aksi demo atau unjuk rasa adalah hal biasa atau lumrah sebagai ciri khas negara demokrasi yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, yang salah satunya adalah hak menyuarakan pendapat baik lisan maupun tulisan. Demikian juga di negara Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di asia setelah India. Banyak kepentingan dari sudut apapun yang dapat dijadikan thema demonstrasi, sehingga keterikatan secara psychologis dapat tercipta dengan begitu cepatnya dan juga dapat hilang dalam hitungan detik, karena memang kepentingan itu sendiri dapat berubah sesuai dengan waktu atau momentumnya.

Demonstrasi atau aksi unjuk rasa yang saat ini terasa sangat intesn adalah demontrasi mendukung KPK yang disebagian kelompok masyarakat sebagai pihak yang teraniaya, walaupun hal ini masih dalam tahap pendapat per pendapat perorangan. Penulis tidak membahas masalah substansi atau isi permasalahan tentang thema ini ataupun apa dibalik semua ini, yang ingin ditulis Penulis adalah pembagian atau pemilahan beberapa kelompok yang masuk dalam pendukung di setiap demonstrasi/unjuk rasa apapun juga. Biarlah masalah kebenaran diputuskan dipengadilan sebenarnya dan hakim sebagai pemutus yang sah di negara hukum, bukan hakim di jalanan.

Dalam setiap unjuk rasa atau demonstrasi, maka dieratkan dengan kepentingan yang sama, jika dalam suatu titik atau batasan dimana kepentingan terasa berbeda atau sudah melenceng dari kepentingan bersama, maka jiwa unjuk rasa/demonstrasi itu sendiri akan kehilangan maknanya. Hal ini bisa tejadi karena tidak semua pendemo memiliki latar belakang pemikiran yang sama dan juga tujuan aksi yang sama.

Pendemo dapat dibagi beberapa bagian sesuai dengan kepentingan nya, sehingga kadar militan nya juga berbeda dan juga kemurnian daripada tujuan itu sendiri berbeda. Pembagian itu dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pendemo Murni
Dalam aksi demo nya, para pendemo murni akan membawa thema perjuangan mereka sesuai dengan tujuan mereka, misalnya : aksi buruh untuk menaikkan upah minimum regional (UMR). Maka setiap buruh di suatu tempat akan mendapat kejelasan aksi mereka yaitu merubah nasib dan hal ini akan didukung oleh semua buruh dengan tulus dan akan rela berpanas dan berhujan sampai tuntutannya terpenuhi oleh pihak pengusaha sesuai kesepakatan bersama. Demikian juga pendukung/pencari keadilan yang murni, yang merasa perlu mempertahankan eksistensi KPK dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang merupakan lembaga sementara atau ekstra yudisial untuk memberantas korupsi di Indoenesia. Para pendemo ini juga mungkin termasuk orang yang merasa atau pernah mendapat ketidakadilan di lembaga penegakan hukum normatif yang ada, sehingga inilah moment yang tepat untuk menunjukkan eksistensi tuntutan hati nurani mereka.

2. Otak perencana.
Dalam setiap aksi demo/unjuk rasa pastilah ada otak perencana yang melakukan tahap perencanaan demo, pelaksanaan, pengorganisasian sampai melakukan anev unjuk rasa/demostrasinya. Otak perencana ini bisa murni dan lebih banyak memiliki kepentingan tersembunyi. Hal ini kemungkinan bisa terjadi karena para otak perencana demo ini biasanya orang yang memiliki pendidikan yang cukup tinggi sehingga dapat memperngaruhi orang yang tidak mengerti untuk mendukung tujuan utamanya atau kepentingannya.

3. Penyandang dana
Biasanya dalam demontrasi atau unjuk rasa ada penyandang dananya, sehingga seseorang yang mau mengeluarkan dana dalam suatu aksi unjuk rasa jarang yang murni untuk tujuan bersama atau kemanusiaan. Biasanya orang yang menyandang dana ini memilki kepentingan akan unjuk rasa dalam tahap pendek, menengah dan panjang. Seorang penyandang dana aksi demontrasi akan menghitung laba dan rugi dari pengeluaran uangnya, dan ini biasanya sudah didukung oleh beberapa pihak.

4. Koordinator Lapangan
Biasanya ada koordinator lapangan atau koorlap yang akan mempengaruhi massa yang murni ataupun massa bayaran, sehingga koorlap ini akan tahu sampai dimana dia melakukan tarik suara untuk mempengaruhi orang lain.

5. Pendemo ikut-ikutan
Sebagian besar pendemo adalah pendemo ikut-ikutan yang tidak mengetahui sejarah dan tujuan demo itu sendiri. Mereka bangga menjadi bagian dari pendemo dan biasanya sekelompok orang ini langsung minggir jika aksi demo menjadi anarkhi.

6. Pendemo pragmatis
Sebagian pendemo yang mencari keuntungan dari apa yang terjadi, misalnya para pedagang yang mendapat untung bila demo/unjuk rasa terjadi. Demikian juga sebagian profesi yang menjual keahliannya dalam bersilat lidah untuk membela aksi demo maupun yang di demo.

7. Pendemo sakit hati
Yang perlu di waspadai adalah type pendemo ini, dimana para pendemo ini memanfaatkan orang lain dan momen yang ada untuk membalas kan sakit hati nya terhadap orang atau institusi yang di demonya, sehingga ini tidak murni lagi dan memilki intrik yang sangat dalam untuk menjatuhkan harga diri lawannya. Dalam hal mendemo instusi peradilan (Polisi, Jaksa dan Hakim), maka kelompok pendemo yang masuk dalam katagori ini adalah kelompok yang mungkin adalah keluarga pelaku kejahatan, baik kejahatan biasa maupun kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dalam UU no. 9 tahun 1998, hak untuk mengeluarkan pendapat secara berkelompok baik lisan maupun tulisan atau unjuk rasa dijamin oleh hukum, dengan catatan melaporkan hari, jam dan jumlah pendemo, minimal 3 hari sebelum hari demo/unjuk rasa sehingga Polisi dapat membuat rencana pengamanan kepada kelompok pendemo ini. Yang perlu diingat adalah jika demo yang mengarah pada tindakan anarkhi dan kehilangan tujuan, maka ini akan merugikan bangsa dan negara Indonesia sendiri, sehingga untuk mencegahnya semua elemen masyarakat dan penegak hukum wajib untuk mencegah ini.

Beberapa aksi yang belakangan mendukung KPK harus kita maknai dengan cerdas, apakah itu dukungan murni membela institusi KPK atau mendukung kepentingan pribadi para anggota yang sedang diinvestigasi Polri. Hal ini perlu kita garis bawahi, karena lembaga ekstra yudisial itu wajar kita dukung, namun dalam hal kesalahan atau kebenaran, maka sewajarnya atau sebaiknya atau sebenarnya kita serahkan pada proses hukum yang ada di Indonesia. Penyelidikan dan penyidikan dilakukan oleh polisi, penuntutan sekaligus pendakwaan dilakukan oleh jaksa penuntut umum serta pemutusan suatu peradilan adalah di tangan hakim.

Maka sebagai warga negara yang cerdas, beretika, santun dan patuh hukum, kita harus menghormati prosedur penegakan hukum yang ada, bukan memaksa peradilan di jalanan apalagi sudah mempolitisasi hukum itu sendiri untuk kepentingan pribadi atau segolongan/sekelompok orang. Bepikir dan berbicaralah senantiasa dalam konteks kepentingan bangsa, bukan kepentingan perorangan atau kelompok!

Khotbah minggu, 22 Nopember 2009

Minggu pagi tadi aku berangkat ke gereja untuk ibadah bersama anak-anak dan istriku. Agak terlambat sedikit, sehingga dapat bangku di bagian belakang, namun aku masih bisa masuk pada acara nyanyian pembuka ibadah. Yah ... nggak enak juga kalau terlambat masuk gereja, rasanya kurang lengkap. Namun setelah bebarapa saat ibadah, masih ada juga jemaat yang lewat dari depanku yang memang jalan masuk, dan ini sangat mengganggu kekhusukan ibadahku apalagi pas aku lagi berdoa, disenggol orang lewat yang nggak punya etika, kacau bener. Kalau bisa petugas atau sintua yang bertugas mencegah jemaat yang masuk memncari kursi sewaktu berdoa, bila pas bernyanyi mungkin ok lah. Namun lebih ok lagi kalau jemaat tidak ada yang terlambat. (He..he.he.. menasehati pulak awak ini, awak juga terlambat..., tapi dikit....), yah sudahlah ini hanya saran aja.

Khotbah minggu ini dibawakan oleh amang Pdt. DTA. Harahap yang memang pendeta HKBP Serpong. Thema khotbah adalah tentang kematian. Ada beberapa point yang dapat ku ingat dari khotbah amang pendeta ini yang kurasa sangat memperkaya pengetahuan ku mengenai arti kehidupan dan kematian, yaitu :

1. Alkitab sangat sedikit membicarakan tentang kematian, walaupun ada yang menceritakan tentang kematian, maka itu hanya samar-samar atau remang-remang. Artinya Alkitab atau Firman Tuhan jauh lebih banyak menceritakan tentang kehidupan, sehingga kalau ada pendeta yang membicarakan sangat banyak tentang kematian, maka cukup layak untuk dipertanyakan. Alkitab secara jelas menerangkan tentang kematian adalah sewaktu Tuhan Yesus telah bangkit dari kematian pada hari yang ketiga, dan Paulus mengejek tentang maut itu dengan menyatakan :"Hai maut, dimanakah sengatmu?"

2. Dalam tataran alam nyata, budaya batak yang awalnya mempercayai aninisme, banyak memberikan perhatian tentang kematian, karena kenyataannya lebih banyak tugu orang mati di tapanuli dibandingkan dengan perpustakaan atau kegiatan kehidupan lainnya.

3. Secara tegas dinyatakan dalam iman Kristen, hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah bersifat langsung dan pribadi tanpa perantara. Kalau sudah mati maka pertanggung jawaban bersifat pribadi tanpa klausul tambahan atau ayat-ayat peralihan.

4. Sering kalau di tempat orang yang lagi sakit, kalau saudara - saudara yang menjenguk membicarakan kematian maka orang yang sakit tidak senang, karena takut mati, padahal kematian adalah suatu proses kehidupan yang telah dimenangkan oleh Tuhan Yesus dengan kebangkitan NYA dari kematian.

5. Sering orang yang memberi nasehat kepada keluarga yang ditinggal kematian, bahwa yang mati telah bertemu dengan Tuhan Di Sorga. Penekanan Pak Pendeta bahwa, bukan hanya setelah mati kita bertemu dengan Tuhan, sewktu hidup pun kita telah berkomunikasi dengan Tuhan, itulah gunanya kita ke gereja atau berdoa yaitu berkomunikasi dengan Tuhan.


Isi khotbah ini mengingatkan padaku beberapa pengetahuan yang lebih mendalam, anatar lain :

1. Memang benar, kita salah jika mengatakan bahwa tunggu mati baru kita menjumpai Tuhan Yesus, sewaktu hidup juga kita bertemu dan berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam doa dan ibadah, maka ada proses pertemuan atau komunikasi antara manusia dengan Tuhan dan ini adalah konsep yang harus dimengerti oleh semua manusia.

2. Hidup bukan berbicara masalah nanti, tetapi lebih menekankan tentang hari ini, sekarang. Sehingga dapat diambil kesimpulan manusia itu dihargai bukan karena berumur panjang, tetapi lebih dihargai dengan perbuatannya atau karyanya didalam hidupnya. Buat apa panjang umur tetapi tidak berbuat apa-apa terhadap mansia lainnya atau kehidupan ini. Jadi kita harus mengisi hidup ini, saat ini, hari ini, waktu demi waktu dengan prestasi demi kemanusiaan dan peradaban.

3. Menyadari tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua akan musnah dan mati, sehingga kita wajib mengimani bahwa Tuhan Yesus telah menyediakan tempat bagi anak-anaknya yang bersedia merenungkan firman Tuhan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Kamis, 19 November 2009

Film 2012

Hari jumat, tanggal 13 Nopember 2009, sekitar jam 18.00. wib, Aku bersama dengan 8 orang teman nonton film 2012 ini di bioskop 21 di sms gading serpong. Awalnya sih aku biasa aja untuk menonton film ini. Tapi, begitu aku tiba jam 16. 00 wib kurang lebih, lha, kog banyak banget orang yang mau nonton. Ada apa yah? Denger-denger seputaran suara dari teman, film ini sangat menarik, karena thema nya hari kiamat. Alamak, apa pulak film hari kiamat? makin penasaran juga hati ini melihat antusiasme para calon penonton, terutama anak sekolah.

Kami pun beranjak mau pesan tiket, rupanya habis. Kami menghubungi manajer nya, wah.. habis katanya. Kita nego untuk masuk dan duduk di emperan aja, tapi bayar, dan tetap nggak dibolehkan, yah sudah, akhirnya kami pun duduk-duduk dan istirahat di sekitar kafe yang ada di sekitar bioskop itu. Kira-kira sekitar jam 17. 00, ada 2 orang siswa smu yang menawarkan tiket sebanyak 8 buah, untuk jam 18.00 sore. Yah, sudah ini rejeki, sudah nunggu, dapat peluang lagi. Akhirnya kelompok yang dekat penjual tiket mendapat tiket masuk, kayaknya seh agak rebutan, kayak anak-anak kecil yang rebutan tiket nonton.

Singkat kata, ketika jam 18.00 wib, kami masuk ke gedung bioskop dan cari tempat duduk, dan dapat tempat duduk paling depan sap ke 2. Bah..dekat kalipun ke layar. Pusing juga lihat gambar yang besar-besar, kayak mau ikut main film sekalian aja.

Film diawali dengan seorang ilmuwan yang ingin melaporkan penelitian nya tentang lapisan bumi ke pejabat pemerintahan amerika serikat. Lalu dari sinilah awal dimulai cerita film, bagaimana, kerak bumi bergeser dan letak bumi di tata surya juga bergeser, dan mengakibatkan bencana alam yang sangat dasyaht di seluruh pelosok bumi., persis seperti tsunami yang di aceh yang disiarkan tv indonesia pada tahun 2005 yang lalu. Terlihat bagaimana seorang penulis buku fiktif yang berjumpa dengan seorang penyiar radio yang mendapat info dari seorang ahli geologi tentang rahasia yang penting ini serta tanggal perkiraan bencana itu (kiamat) yang diperkirakan tanggal 21 - 12 - 2012. Perkiraan ini sesuai katanya dengan ramalan suku maya di sekitar amerika latin. Bah.. aku cukup tertarik juga dengan alur cerita film ini. Diceritakan juga bagaimana, para ahli dari seluruh dunia bekerja sama untuk menyelamatkan manusia dengan membentuk 3 bahtera besar, namun dengan pertimbangan pragmatis, maka petinggi pemerintahan Amerika serikat mau menentukan orang yang ikut diselamatkan dengan membayar 1 miliar dolar. Terjadi sikap pragmatis dan cari keuntungan serta untuk selamat harus bayar mahal. Bah... kejam kali lah film ini.

Diceritakan juga adanya kerjasama orang tibet yang dapat bocoran tentang pembuatan bahtera ini di puncak himalaya, dan bertemu dengan pengarang buku fiktif yang mau menyelamatkan dirinya beserta anak dan istrinya, juga dengan seorang ibu yg berasal dari rusia. Bah.. bertambah runyam jalan ceritanya sekaligus bertambah menarik untuk menguras energi berpikir. Singkat kata kemelut berpuncak pada perbedaan pendapat antara staf ahli prseiden amerika serikat dengan penasehat presiden amerika serikat juga mengenai siapa yang akan diselamatkan atau masuk pada bahtera yang telah dipersiapkan di puncak Tibet. Akhirnya beberapa kepala negara menyetujui pendapat ahli geologi amerika serikat bahwa semua manusia memiliki hak yang sama untuk hidup. Disinilah salah satu inti nasehat dari film itu yang kudapat. Selanjutnya film masih dalam ketegangan, karena pintu masuk bahtera macet dan harus ada orang yang rela menempuh bahaya demi keselamatan penumpang lain, dan terlihat si penulis fiktif mengambil alih penyelamatan bahtera dengan menyelam ke arah buritan pintu bahtera yang dibantu anak laki-laki nya, akhirnya pintu pun tertutup dan mesin bahtera dapat dikendalikan sehingga tidak menabrak gunung di puncak tibet yang dapat mengkandaskan bahtera mereka.

Beberapa learning point atau point pembelajaran yang dapat kuambil dari film ini, antara lain yaitu :

1. Film ini diilhami oleh kisa nabih Noah yang berhasil selamat dari bahaya air bah karena nabi noah ikut perintah Tuhan agar membuat kapal besar atau bahtera. Bencana besar ini di ciptakan Tuhan karena manusia telah banyak melakukan dosa. Juga berhasil selamat waktu itu binatang yang saling berpasangan. Janji Tuhan setelah air bah ini adalah tidak akan membuat air bah lagi, namun kiamat atau penghakiman terakhir pasti datang tanpa kita ketahui waktunya.

2. Hak untuk hidup adalah hak asasi manusia, jadi tidak ada alasan oleh perorangan untuk menentukan siapa yang bisa selamat dan tidak selamat masuk ke bahtera.

3. Dalam situasi genting itu, masih ada juga manusia yang tega mencari untung dengan meminta bayaran 1 miliar dollar untuk dapat masuk ke bahtera dan selamat atau juga sebagai biaya panjar dalam membantu pembuatan 3 bahtera tersebut.

4. Dalam situasi genting, semua orang beragama harus berdoa dengan kepercayaan nya agar umat manusia diberi keselamatan oleh Tuhan tanpa memandang agama apapun.

5. Kerajasama yang diperankan oleh pemerannya layak di apresiasi untuk menjadi contoh teladan agar kita saat ini dan kapanpun harus saling menjaga bumi ini untuk kesejahteraan semua manusia.

6. Sikap pengorbanan presiden amerika serikat untuk tetap bersama rakyatnya di saat genting menunjukkan kualitas pemimpin yang sangat terpuji, jadi bukan menyelamatkan dirinya sendiri walaupun itu bisa dilakukan. Ini sangat layak dicontoh oleh kita semua yang sebagian hanya mental kutu loncat atau pragmatis.

7. Bahwa ini hanyalah film khayalan semata dan sangat tidak layak untuk dijadikan tolok ukur hari kiamat, sehingga sebagai orang yang cerdas, tidak usah terlalu memperdebatkan film ini. Cukuplah ini dipandang sebagai hasil cipta karsa manusia insan film yang sukses mengingatkan kita tentang hari penghakiman terakhir yang tidak kita ketahui kapan waktunya.

Selasa, 17 November 2009

Hiasan Natal





Natal tahun ini sudah mulai mendekat, artinya umat Kristen akan melaksanakan kegiatan memperingati kelahiran Tuhan Yesus Kristus yang rela berkorban demi menebus dosa manusia. Terkadang memory saya dapat diulang kembali pada saat kisah natal tahun-tahun yang lalu, dimana nuansa natal sangat menyenangkan dan membahagiakan.

Dalam suasana keterbatasan secara ekonomi, perayaan NATAL dapat kami laksanakan dalam keluarga dengan cara berkumpul dengan keluarga kakak atau abang yang telah berkeluarga dan biasanya di Medan atau Sumatera Utara Umumnya, perayaan Tahun Baru yang paling ramai dibanding Natal, mungkin hal ini erat kaitannya dengan liburan anak sekolah dan mahasiswa.

Ada kenangan manis yang kurajut bersama dengan teman-temanku, antara lain : Donal Purba, Bobby Tampubolon, Hery Tampubolon, Sabar Hutabarat, yaitu : kami sering mengikuti ibadah NATAL di gereja-gereja sekitar kota Medan atau di gedung-gedung pertemuan. Kami biasanya juga diundang untuk datang pada perayaan natal oleh teman-teman, namun kami juga dengan semangat muda tanpa diundang juga terkadang mencari tempat perayaan natal. Motivasi nya hanya lah ingin merayakan natal sekaligus menikmati kue natal atau hidangan natal lainnya. Sangat indah untuk dikenang. Pernah kami diajak teman untuk merayakan natal dengan bahasa daerah teman yang kami kurang mengerti, yah sudah dengan nada yang sama, maka kami turut saja perayaan natal tersebut. Mantap lah...

Untuk persiapan menyambut NATAL tahun ini, aku sengaja menyempatkan diri melihat-lihat beberapa mall di sekitar Tangerang dengan tujuan melihat pernak pernik Natal yang cukup Indah dan harga yang cukup terjangkau. ok deh...

Senin, 09 November 2009

Pelatihan mengukur Volume kenderaan, kepadatan jalan, dan kelancaran arus lalu lintas





Hari kamis, tanggal 5 Nopember kemarin, aku dengan teman satu kelas manajemen rekayasa lalu lintas mengadakan praktek pelajaran karakteristik dan survey lalu lintas 2. Teori tentang pelajaran ini sudah kami dapat dari dosen luar (STTD) yang cukup menarik cara pengajaran nya dan cukup luas pengetahuan pendukungnya.

Kelas dibagi dalam 4 kelompok, yang satu kelompok terdiri dari 7 atau 8 orang. Masing-masing orang sudah tahu tugasnya sehingga dalam prakteknya di lapangan sudah tinggal sedikit mengalami kendala.

Masing-masing kelompok melakukan kegiatan yang berbeda, ada yang lebih dahulu mengukur volume jalan, mengukur kepadatan jalan dan arus lalu lintas. Banyak variabel yang mempengaruhi kepadatan lalu lintas, antara lain : jumlah kenderaan, panjang jalan, budaya perilaku pemakai jalan, dll. Faktor-faktor yang mempengaruhi lalu lintas ini ditambah lagi dengan situasi jalan, marka jalan dan rambu-ambu lalu lintas. Dari beberapa faktor pembuat kemacetan jalan, faktor yang paling dominan adalah dari faktor manusia yaitu perilaku yang tidak mematuhi rambu-rambu dan marka jalan. Perlu peningkatan kesadaran yang tinggi agar kemacetan dapat dikurangi dari situasi jalan di Indonesia selain membenahi manajemen operasional jalan, sarana dan prasarana dan kenderaan itu sendiri.

Khotbah minggu, 8 Nopember 2009

Minggu kemarin, tanggal 8 Nopember 2009, Aku bergereja di Gereja HKBP Serpong, jam 7.00. WIB, dan Pendeta yang berkhotbah saat itu adalah Pdt. Simanjuntak (HKBP Adyaksa). Khotbah minggu ini diambil dari kitab Yesaya.

Ada dua pesan yang kuingat dari khotbah minggu ini, yaitu tentang pusat dari ibadah dan tentang puasa.

1. Pusat dari ibadah.
Sering aku mendengar kalimat tentang pertumbuhan iman yang kurang dari generasi muda HKBP yang katanya bahwa kalau di gereja HKBP kurang bertumbuh imannya. Mendengar pernyataan ini, aku sering tidak menerima alasan yang kurang tepat. Kaum muda batak yang HKBP yang terkadang kutanya, kenapa jarang bergereja ke HKBP, katanya kurang semangat, kurang meriah dan kurang tumbuh imannya. Aku sering menasehati sewaktu berbincang-bincang masalah ini, emang apa yang dicari digereja? Aku heran, apakah kepuasan orang yang dicari atau memang ibadah itu bertujuan memuliakan Tuhan.

Mungkin dapat kujadikan beberapa alasan pendapat kaum muda batak HKBP yang enggan bergereja ke HKBP, yaitu :

a. Orang tua yang kurang mendidik dan membiasakan anaknya untuk beribadah di gereja HKBP, mungkin alasan jarak yang jauh atau memang kurang dibiasakan, sehingga begitu mereka menginjak remaja dan dewasa terasa asing beribadah di gereja HKBP, apalagi bahasa yang kurang dimengerti.
b. Gereja HKBP dianggap hanya syarat administrasi untuk menikah nantinya, jadi memang terdaftar di gereja HKBP, tetapi sekali setahun saja beribadah di gereja HKBP, namun setiap minggunya beribadah di gereja lain.
c. Tata ibadah yang kurang dimengerti kaum muda batak HKBP yang mungkin kurang dapat informasi sebenarnya tentang arti tata ibadah, sehingga mereka hanya senang ibadah yang hura-hura atau menyenangkan hati mereka, bukan menyenangkan hati Tuhan.
d. Informasi yang salah dan menyesatkan dari beberapa orang yang menyatakan bahwa gereja HKBP itu adalah gereja ortodok dan banyak adat yang menyalahi arti ketuhanan, misalnya arti ulos dan mangokal holi, yang diissukan perbuatan melawan ajaran Tuhan.

Setelah mendapat khotbah hari minggu ini, aku mendapat khidmad baru yang dapat menjawab beberapa keraguan dan salah pengertian dari beberapa generasi muda batak HKBP ini, yaitu :

1. Pusat Ibadah kita adalah Tuhan Yesus. Jadi ibadah bukan bertujuan mencari kepuasan diri pribadi kita, dan jadi tidak ada alasan untuk mempersepsikan atau menilai ibadah kita benar atau tidak oleh diri kita ataupun orang lain. Ibadah kita dinilai oleh Tuhan Yesus, sehingga tugas kita hanya mempersiapkan diri sebaik dan sebenar mungkin tentang diri kita sebelum beribadah.
2. Kita harus menyadari bahwa tata ibadah di HKBP mulai doa pembukaan, mendengarkan hukum Tuhan, mempersembahkan ucapan Syukur dan menerima berkat sudah diatur sedemikan rupa menjadi tata ibadah yang agung, yang sangat berbeda yang beribadah hanya bernyanyi saja.
3. Setelah kita memahami tentang arti ibadah ini, maka sudah tidak ada alasan untuk mencari kepuasan pribadi dengan mencari ibadah di tempat lain hanya dengan alasan kepuasan diri sendiri.
4. Orang tua, masyarakat, dan gereja harus tetap memberikan sosialisai tentang ari tata ibadah HKBP kepada generasi muda kita, dan membuat alternatif ibadah atau kebangunan rohani yang cukup pas dengan jiwa muda yang tidak melenceng dari tata ibadah HKBP umumnya.

Selain hal diatas perlu dipahami bahwa generasi muda batak HKBP harus tetap menghargai adat istiadat batak (dalihan natolu) berikut variabel pendukungnya, antara lain ulos dan mangokal holi, yang kesemuanya adalah bentuk penghormatan kepada orang tua, sanak saudara, dan menurut pengetahuan penulis, sepanjang sesuatu tidak menjadi hal yang di sembah atau menuhankan suatu benda, maka itu adalah perbuatan sah dan tidak melawan hukum Tuhan.

2. Tentang Puasa

Dalam kitab Yesaya juga berbicara tentang puasa, yang saya tangkap adalah puasa sebagai bentuk pelatihan kita agar lebih fokus berkomunikasi dengan Tuhan Yesus. Selain itu jika orang yang bepuasa, memperlihatkan sifat yang menghargai orang lain, menolong kaum yang lemah, melepaskan orang yang tertawan, dll, bukan malahan mempersulit orang lain apalagi melawan hukum itu sendiri. Ini perlu dipahami agar Tuhan jangan marah dan murka dengan membuat teguran berupa bencana yang tidak terperkirakan.

Kamis, 05 November 2009

Menganalisis eksistensi KPK

Kita mengetahui bersama, tuntutan masyarakat Indonesia pada tahun 1998 pada saat reformasi yang dimotori mahasiswa dan masyarakat lainnya adalah : Mundurnya Suharto, pemisahan Polri dengan TNI, Hapusnya KKN dari Indonesia, dll. Budaya korupsi, kolusi dan nepotisme adalah sebagai entry point tuntutan masyarakat terhadap kinerja birokrasi dan pemerintahan Indonesia. Hal ini direspon dengan membuat regulasi undang-undang dan Tap MPR yang merupakan landasan legal untuk mereformasi birokrasi kita. Dengan merespon tuntutan masyarakat agar menghapus KKN dari bumi Indonesia, maka dipandang perlu membuat suatu badan atau komisi yang khusus memburu dan menginvestigasi para korptor yang ada di Indonesia dengan membuat lembaga ekstra yudusial yang sifatnya sementara yang berbentuk komisi yaitu komisi pemberantasan korupsi (KPK) yang isinya terdiri dari anggota Polisi, Jaksa dan yang lainnya.

Kita harus menyadari semangat pembentukan KPK ini adalah untuk menghapus KKN dari bumi Indonesia yang dirasa sudah menjadi budaya negatif dan sangat merusak. Dalam hal ini, masyarakat juga pemerintah jangan pernah lupa bahwa, disamping kita membuat badan ekstra yudisial seperti KPK diatas, yang sangat perlu adalah penguatan kinerja Polisi, Jaksa dan Hakim sebagai lembaga tetap yang merupakan bagian dari sistem penegakan hukum di negara-negara demokrasi di dunia ini. Reformasi kultural, instrumental dan struktural di tubuh Polisi, Jaksa dan Hakim harus di apresiasi dan diketahui oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat merasakan adanya perubahan kinerja di lembaga penegakan hukum Indonesia. Biar bagaimanapun, kita tidak mau situasi darurat dengan lembaga darurat tetap eksis di negara demokrasi kita ini.

Di satu sisi, memang kita masih memerlukan keberadaan KPK ini, namun KPK bukanlah satu-satunya lembaga yang bekerja memberantas korupsi. Dalam hal ini kejaksaan telah bekerja cukup lama, serta Polisi juga sangat intens untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan pelaku-pelaku korupsi ini. Memang untuk saat ini, koruptor kelas kakap yang dibidik oleh KPK, dan ini perlu diapresiasi. Satu hal tentang kinerja KPK perlu disosialisasikan kepada masyarakat adalah sudah berapa banyak koruptor yang berhasil disidik oleh KPK dan sudah berapa banyak jumlah uang yang diselamatkan oleh KPK dan dikembalikan kepada negara. Ini perlu di pahami agar masyarakat dapat memberi penghargaan yang pas dengan kinerja kpk ini.

Penguatan lembaga penegakan hukum di Indonesia atau yang dikenal dengan Criminal Justice Sistem (CJS), yaitu Polisi, Jaksa dan Hakim sanagt perlu dipahami masyarakat sebagai bagian dari pengelolaan negara demokrasi yang normal, sehingga reformasi di lembaga penegakan hukum ini dapat dirasakan oleh masyarakat dalam pelayanan publik sudah lebih baik dan bebas dari korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).