Rabu, 03 Mei 2017

Inilah Aku.

Panggil saja namaku Piter, atau Pit atau Bang JP.


Aku sangat menghargai yang namanya mahluk hidup, apalagi manusia, sehingga aku sangat bahagia berada di tengah komunitas yang mengutamakan kenyamanan dan harmonisasi kehidupan. Aku tidak memandang saudara itu dari mana, suku apa, agamanya apa, ras nya apa, dan perbedaan lainnya, karena aku sangat sadar bahwa seseorang terlahir itu adalah karena hak prerogatif Tuhan Yang maha esa, dan atau tidak ada ceritanya seseorang terlahir dengan proses tawar menawar atau bargaining antara dirinya dan Tuhan terkait status keberadaan orang tuanya. AKu sangat menghormati Hak Asasi Manusia. Itulah aku.


Aku sangat menolak kekerasan (kecuali karena tugas negara), aku menolak diskriminasi, agitasi, adu domba, issu hitam, politisasi agama, politisasi gelap dan seabrek perbuatan negatif lainnya, yang bermain main dan mengambil keuntungan diatas penderitaan banyak orang. Aku mengutamakan objektivitas dan berusaha menjauhkan subjektivitas, sehingga aku dalam perbuatan dan pikiranku memiliki standar hidup yang universal, yang mengutamakan kejujuran, profesional, kerja keras, mandiri, kreatif, gotong royong dan perbuatan baik dan benar lainnya.


Inilah aku kawan...


Pelangi itu indah karena banyak warna... hidup ini juga sangat indah karena kita berbeda. Jadi mari... kita bekerjasama dalam harmoni kehidupan menuju kebahagiaan bersama. Tuhan beserta kita. Amin.

Selasa, 02 Mei 2017

Antara Rasa dan Logika.







Antara Rasa dan Logika.


Kita sering di perhadapkan kepada suatu persoalan kehidupan, dan itu merupakan pilihan, misalnya dalam momen Pemilu Kada.
Pemilihan Umum, baik itu Pemilihan Presiden, Gubernur, Walikota dan Bupati, sejatinya dilakukan dengan musyawarah dan mufakat sesuai dengan nafas Ideologi kita yaitu Pancasila. Namun dalam skala besar (pemilih nya banyak), maka untuk melakukan musyawarah dan mufakat secara teknis sulit untuk di implementasikan, karena membutuhkan ruang yang sangat luas dan peralatan yang sangat banyak, padahal penduduk tiap saat bertambah di muka bumi. Di sisi lain seorang pemimpin harus dipilih agar roda organisasi berjalan.
Pemilihan umum untuk memilih para pemimpin di setiap level dilakukan dengan cara demokrasi (suara rakyat adalah menentukan), sehingga cara voting dengan membebaskan seseorang memilih pemimpin atau wakilnya diberikan dengan asas atau dasar kebebasan, kerahasiaan dan tanpa tekanan apapun.


Proses pemilukada harus dilakukan dengan fair play. Bermainlah dalam ideologi bangsa yaitu Pancasila. Jangan bermain api dengan memperbesar atau memperalat bahkan menjual simbol simbol agama, suku, ras dan golongan yang sangat rentan dengan perpecahan. Sebagian merasa bahwa untuk merebut simpati rakyat, sah sah saja memainkan issu SARA ini, karena pada akhirnya rakyatlah yang akan menentukan. Pendapat ini dibenarkan jika memakai asas Machiavelli atau menghalalkan semua cara (menindas, propaganda sesat, dll). Namun disisi lain ini memberikan pembelajaran demokrasi yang sangat buruk kepada masyarakat dan generasi muda lainnya tentang demokrasi barbar dan primitif dan tidak memilki etika dan sopan santun. Kemenangan yang diraih dengan melukai hati sesama anak bangsa adalah bagian kampanye hitam dan bukan lagi kampanye nagatif.
Kita memiliki tanggung jawab moral kepada generasi muda di bawa kita. Idealnya, para politikus saat ini harus bermain politik cantik, cerdas dan smart dalam koridor Pancasila dan UUD 1945 untuk menjaga Kebhinekaan tunggal ika dan persatuan NKRI. Cara yang paling ampuh adalah tanam kebaikan, kejujuran, keterbukaan, kesantunan, tidak munafik, tidak korupsi dan kebenaran lainnya kepada semua masyarakat. Ajak masyarakat untuk kreatif, jujur, bekerja keras, mandiri, bergotong royong, berilmu pengetahuan, memiliki jiwa usaha, dan lain sebaginya, sehingga seorang politikus akan dikenal, dikenang dan layak mendapat penghargaan untuk dipilih secara gembira oleh masyarakat.


Pemilukada bukan moment menyeramkan, penuh rasa benci dan agitasi. Pemilukada sangat buruk jika dimainkan oleh orang orang yang berniat buruk (korupsi, diskriminasi dan menggantikan ideologi Pancasila). Pemilu kada adalah pesta demokrasi, pesta rakyat yang seharusnya diisi dengan kegembiraan, makanan dan minuman yang sehat dan gratis, menyenangkan, berfoto ria, dan lain sebagainya, terlepas pada pilihan yang berbeda.


Jangan bangga dengan kemenangan yang dilakukan dengan cara cara hitam dan sangat menjijikkan. Menangkanlah suatu pemilihan dengan memenangkan hati rakyat, memenangkan hati masyarakat dengan nilai-nilai kejujuran, melayani, kompeten dan perbuatan benar dan baik lainnya.
Terkadang masyarakat memerlukan waktu untuk merenung dan bertanya kepada Tuhannya, " Siapakah aku ini Tuhan " ?... Apa kontribusiku kepada negara dengan satu suara yang kumilki ? Dari pertanyaan ini, maka Tuhan akan memberikan pencerahan, menyatukan antara logika dan perasaan, bahwa semua manusia memerlukan sifat dan karakter yang berlaku secara umum atau universal, yaitu pemimpin yang jujur, tidak korupsi,empaty, melayani, smart, dan perilaku baik dan benar lainnya.
5 tahun adalah waktu yang sangat banyak untuk merusak sendi sendi organisasi masyarakat, baik itu di Kabupaten, Kota, Propinsi bahkan bangsa ini jika rakyat salah memilih pemimpin (pemipin yang korup dan munafik, dan perbuatan negatif lainnya).


Sebaliknya, Lihat Rekam jejak seseorang dengan lengkap, luas dan benar, sehingga setiap orang di negara ini dapat memilih para pemimpinnya dengan benar dan bebas dan hasilnya dapat dibanggakan kepada anak cucu dan generasi yang akan datang.

Jumat, 28 April 2017

Mengayuh biduk Rumah Tangga.

Mengayuh biduk Rumah Tangga.


Matius 19, 6.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."


Markus 10
9. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."


Sepasang pria dan wanita yang berumah tangga, bisa dilatar belakangi dengan saling cinta atau juga dengan terpaksa atau setengah terpaksa.
Idealnya sebelum membentuk satu keluarga, harus dimulai dengan masa perkenalan (pacaran) yang positif dan membangun sehingga masing masing pihak dapat mengenal lebih mendalam sifat dan kepribadian bakal suami atau istri. Waktu dan pertemuan akan menjadi saksi proses pengenalan tersebut dan pada akhirnya akan mewujudkan suatu chemistri dan saling pengertian yang mendalam.
Andai ada keragu-raguan di antara kedua belah pihak, laki-laki atau perempuan, sebaiknya di cari solusi yang benar dan terbaik, apakah penyebab keraguan itu, dan apakah keraguan itu dapat ditoleransi atau diberi solusi, sehingga hal ini jangan menjadi api dalam sekam yang senantiasa bisa menjadi pemicu kebakaran yang dapat memusnahkan biduk rumah tangga tersebut.


Dalam terminologi iman Kristen, lembaga perkawinan itu sakral dan sangat dihormati. Apalagi kekritenan itu diperkuat dengan suatu budaya perkawinan yang cukup mahal dan prosedur yang cukup panjang di adat Batak (misalnya). Hal ini membawa konsekuensi adanya tanggung jawab sosial dari kedua pihak suami atau istri yang baru berumahtangga, karena pesta perkawinan mereka melibatkan banyak pihak dari kedua keluarga besar dan disaksikan oleh para habdai tolan, para sahabat, para koleg yang datang pasa prosesi pemberkatan, dan prosesi adat istiadat dan resepsi perkawinan.


Ayat diatas menunjukkan bahwa setelah mereka, pria dan wanita yang diberkati oleh Pendeta di gereja, maka mereka bukan lagi dua pribadi, melainkan satu, sehingga tidak ada lagi kata berpisah atau perceraian, yang ada adalah hukum kasih, yang harus bisa memaafkan kekurangan pasangannya dari pada mencari kelemahan pasangannya. Ini sangat tidak mudah bila dihadapkan pada kenyataan yang bisa jadi tidak sesuai dengan angan angan atau impian masing masing pihak (suami atau istri).
Pemberkatan yang sakral ini harus dilihat oleh pasangan baru suami dan istri sebagai legalitas rohani dan perjanjian di hadapan Tuhan Allah bahwasannya mereka berdua harus bisa berbagi dan setia pada saat suka dan duka dan sampai maut memisahkan mereka berdua.
Ini sangat ideal, atau mungkin di tataran sebagian orang ini hanya mimpi atau utopia, dan dicemooh oleh para petualang. Namun di sisi lain.. masih cukup banyak pasangan yang memegang teguh ikatan perjanjian mereka yang harus bisa setia dan saling menyayangi antar mereka.


Beberapa rintangan atau godaan dalam mengayuh biduk keluarga bisa terjadi. Adanya perbedaan antara kenyataan setelah pernikahan yang berbeda dengan sebelum pernikahan, misalnya sifat sifat asli dari pasangan yang cenderung mengatur atau mendikte pasangannya, sangat posesif, pencemburu, sangat mudah marah atau sedih dengan situasi yang ada, suka memarahi pasangannya di depan umum, suka menjelek jelekkan pasangannya di hadapan orang lain, tidak menyayangi keluarga besar dari pihak suami atau istri, dan lain sebagainya. Sifat sifat negatif diatas mungkin saja belum terlihat pada waktu pacaran, namun bisa timbul pada saat sudah berkeluarga, sehingga menjadi satu masalah besar jika tidak dibicarakan dengan baik baik dan saling memberi perhatian.
Ibarat sebuah kapal yang sedang berlayar, hambatan dari internal ini bisa menjadi awal dari satu perpisahan atau perceraian, belum lagi masalah eksternal, misalnya penghasilan suami atau keluarga yang kurang, sifat boros suami atau istri jiak ketemu teman-temannya, atau adanya godaan dari perempuan atau laki laki lain yang menarik perhatian suami atau istri tersebut.


Dalam setiap perceraian atau kapal yang pecah, masing masing pihak atau suami istri berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Bagaiman dengan anak anak ? mereka adalah korban dari perpecahan rumah tangga tersebut. Mereka akan menderita atau mendapatkan luka batin yang dipendam teruys sampai dewasa. Anaka anak akan kehilangan sosok keteladanan dan juga kasih sayang dari orang tuanya. Anak anak akan menjadi pihak yang sangat dirugikan dari satu kisah perceraian.
Pada akhirnya... sebelum menikah, maka kedua pihak laki laki dan perempuan harus yakin seyakin yakinnya bahwa calon pasangannya yang terbaik dan menjadi pilihan Tuhan terhadap dirinya. libatkan Tuhan dalam memilih pasangan hidup kita. Kejujuran dalam bersikap adalah dasar dari segala perikatan keluarga. Jujurlah tentang karakter masing-masing. Jangan bersandiwara dan menutupi sifat dasar atau karakter masing masing, sehingga ini jangan menjadi satu penyesalan yang akhirnya dapat menjadi bibit bibit keributan yang bisa berakhir pada perceraian.


Tidak ada gading yang tidak retak, tidak ada pribadi yang istimewa dan sempurna, namun kejujuran akan mengatasi itu semua, dan kedewasaan dalam iman akan bisa menerima perbedaan dan kekurangan masing masing pihak.

Kamis, 27 April 2017

Karangan Bunga

Karangan bunga.

Banyaknya karangan bunga yang dikirim oleh masyarakat Jakarta atau luar Jakarta membuat terperangah dan haru bagi para pembacanya. Sejatinya... dan menjadi budaya... yang diberi karangan bunga adalah bagi sang pemenang atau sang pemilik bangunan yang diresmikan. Namun dalam hal Pemilukada Jakarta ini, banyaknya pemberian karangan bunga yang berisi kalimat kalimat lucu dan mengharukan kepada Pak Ahok dan Pak Jarot membuat haru dan bahagia antara pemberi, penerima dan masyarakat yang menyaksikan.

Ada kalimat yang lucu ... " dari kami yang belum bisa move on ".. dan lain sebagainya... HAHAHHAHAHAH... ini suatu fenomena yang menarik dan baru terjadi di Indonesia dan penjuru dunia. Biasanya dalam kontes pemilu Gubernur atau Presiden di belahan dunia manapun... yang kalah pasti protes dengan demo atau bentuk unjuk rasa lainnya jika merasa ada yang kurang fair. Namun ini ... yang kalah malah diberi ganjaran yang sangat indah yang menyentuh hati.
Inilah yang dinamakan pemimpin yang sangat berhasil dalam proses kepemimpinannya yaitu : "memenangkan hati para rakyatnya atau anggotanya'. Ada ikatan rasa yang jujur bahwa sang pemimpin tidak pernah sendiri dalam kekalahan nya dan semua anggota atau rakyat masih memiliki harapan bahwa pemimpin atau pak AHOK dan Pak Jarot dan orang orang kompeten dan jujur lainnya di Indonesia masih memiliki banyak pendukung untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Bak sisi dua mata uang, di setiap moment, pasti ada yang suka dan ada yang kurang suka (sirik). Biasanya kalau sesuatu yang indah dan disukai banyak orang, maka seseorang yang tidak suka akan mengungkapkan kata kata tidak sukanya dengan kalimat kalimat .." ah... mungkin itu hanya rekayasa..." dan lain sebagainya.

Pada akhirnya bentuk kreatifitas pemberian bunga yang sangat indah dan banyak ini menunjukkan bahwa kita Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pengekspor bunga keseluruh dunia. Dan unjuk rasa akan kekalahan bukan hanya dengan cara cara barbar, turun ke jalan dan membuat macet, caci maki, demontrasi, dan lain sebagainya. Cukuplah diucapkan dengan setangkai bunga atau satu karangan bunga nan indah.

Pelangi

1 Musa 8 : 21 b
Ndang be ulahanku manorui tano on ala jolma i, ai na jat pingkiran ni roha ni jolma sian sietehetehonna.
Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya.
Sejak kejadian air bah pada jaman nabi Nuh, maka Tuhan Allah berjanji takkan menurunkan air bah lagi ke bumi dengan tanda adanya pelangi. Tuhan tidak berkenan dengan orang yang melakukan kejahatan atau dosa, namun Tuhan Allah juga sangat sayang kepada umat manusia dan memberi waktu untuk bertobat bagi manusia yang pernah melakukan dosa.
Kasih itu memaafkan, dan itu adalah anugerah semata dari Tuhan Allah, namun ada konsekuensi nya, yaitu manusia tidak boleh mempermainkan kasih tersebut dengan berpikir... ah... masih muda ini umur, mari kita berbuat dosa dan kalau sudah agak tua maka bisa bertobat...
Ini adalah bentuk pengingkaran dari kasih dan anugerah tadi. Semeentara maut atau kematian itu datang seperti pencuri malam yang datang ke rumah pada saat pemiliki tertidur lelap. Seorang pun tidak ada yang tahu kapan waktunya untuk kembali ke pangkuan sang Bapa di surga.
Untuk itu jangan sia siakan waktu dengan perbuatan yang tidak benar. Buatlah perbuatan yang benar dan baik sebanyak mungkin hari lepas hari, sehingga sudah habis energi untuk melakukan rancangan kejahatan atau perbuata yang jahat bagi manusia yang lain. Amin.

Rabu, 26 April 2017

Ingat... "Indonesia adalah negara Hukum."



Indonesia adalah negara Hukum. Jadi hukum sebagai panglima di negeri ini untuk menegakkan keadilan dan kebenaran yang manfaatnya akan dirasakan oleh semua Rakyat.
Tekanan politis dari gerombolan jalanan yang bertopengkan agama, menjual kemiskinan, melakukan propaganda sesat dan hitam berdasarkan warna kulit harus ditolak dan dimusnahkan dari muka bumi Pancasila.
Rakyat beserta para pemimpin bangsa dan segenap komponen TNI dan Polri siap untuk mempertahankan sang merah putih yang berkibar di bumi Indonesia.
Lagu : " Berkibarlah Benderaku, oleh Ibu Sud.
Berkibarlah benderaku
Lambang
suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa
Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang merah putih yang perwira
Berkibarlah Slama-lamanya
Kami rakyat Indonesia
Bersedia setiap masa
Mencurahkan segenap tenaga
Supaya kau tetap cemerlang
Tak goyang jiwaku menahan rintangan
Tak gentar rakyatmu berkorban
Sang merah putih yang perwira
Berkibarkah Slama-lamanya

Jumat, 21 April 2017

Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini 2017




" Habis Gelap Terbitlah terang "
Itulah satu judul buku yang dikarang oleh Ibu R.A Kartini. Judul yang singkat, sederhana tetapi sangat sarat artinya.
Jaman kolonial, jaman kemerdekaan atau sampai saat jaman milenium ini, bisa saja terjadi konstruksi pemahaman yang salah terhadap kesamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Banyak variabel yang mempengaruhi degradasi atau pengucilan perempuan di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Beberapa faktor tersebut antara lain dari faktor agama (dari dulu semua agama di dunia)... bahwa pemimpin agama adalah kaum laki laki. Kemudian faktor budaya yang mengutamakan anak laki-laki sebagai pemimpin, apalagi yang menganut garis keturunan marga laki laki, misalnya di adat suku Batak, dan lain sebagainya.
Hali inilah yang mempengaruhi terhambatnya peran perempuan di banding laki-laki yang saat ini sangat terasa, misalnya mencari kuota 30 persen yang telah diamanatkan oleh Undang Undang dalam keanggotaan legislatif atau DPR, sangat sulit untuk dipenuhi.
Dalam suatu keluarga, bisa jadi keluarga yang sudah modern atau maju dan berpendidikan, atau keluarga yang sederhana, pengutamaan kepada anak laki laki untuk menuntut ilmu setinggi tingginya masih dirasakan dan masih ada. Anak perempuan walaupun sudah di beri kebebasan untuk melanjutkan pendidikan sampai strata tiga atau program doktor, tetapi masih kalah dibanding support kepada saudaranya laki-laki. para orang tua sadar atau tidak sadar masih menyisakan gambaran perempuan yang cukup hidup sebagai pendamping suami atau navigator dari satu kenderaan. Para anak perempuan di arahkan untuk pekerjaan domestik, cukup bekerja di lingkungan dapur, sumur dan kasur, dan hal ini sangat lumrah terjadi. Dalam dunia nyata ada lagi kejadian bahwa seorang laki-laki yang bertemu dengan seorang wanita karier, kemudian berkeluarga lalu menyuruh istrinya berhenti bekerja, padahal si suami sendiri tidak mampu membiayai kehidupan sosial ekonomi keluarga tersebut, tetapi dengan gengsi yang berlebihan ditutupi dengan alasan menjaga anak anak supaya terurus, maka sang istri yang bekerja tadi di paksa untuk berhenti dari pekerjaan nya. ini suatu ironi yang sangat menyedihkan.
Kegelapan yang dirasakan oleh R.A. Kartini pada masa lalu dan kartini-kartini pada saat ini harus di lawan dan para kartini kartini saat ini harus masuk ke alam yang terang. Perbedaan laki-laki dan perempuan hanya terdapat pada masalah kodrat yaitu perempuan kodratnya melahirkan, menstruasi, menyusui. Sementara laki-laki dikodratkan untuk membuahi dan kodrat laki-laki lainnya. Karier dan predikat kehidupan lainnya yang dibuat oleh manusia sama antara laki-laki dan perempuan, sehingga kesadaran akan kodrat ini tidak menghilangkan peran perempuan di dunia karier.
Saat ini pekerjaan domestik atau rumah tangga misalnya : memasak, mencuci, menyapu, menyetrik dan membersihkan rumah sudah banyak dilakukan oleh laki-laki. Kita bisa melihat para chief atau ahli masak sudah didominasi oleh laki-laki dan mencuci sudah didominasi mesin cuci.
Jadi tidak ada lagi alasan perempuan tetap masuk wilayah degradasi atau terzolimi di tengah tengah masyarakat. Perempuan juga harus pintar dan bersekolah setinggi tingginya, karena jika ibu pintar, maka akan berdampak langsung kepada si anak yang akan termotovasi menjadi pintar karena sang ibu lah yang paling banyak berinteraksi dengan anak anak. Bayangkan jika sang ibu ditanya anak-anaknya dengan pertanyaan sederhana 15 dibagi 3, kemudian dijawab sang ibu dengan tidak tahu atau dijawab tanya sama Bapakmu, kan berabe. Itu akan membawa pengaruh negatif secara bawah alam sadar kepada si anak.
Jadi kepada para perempuan Indonesia... majulah terus, tuntutlah ilmu setinggi tingginya. Berkarirlah setinggi tingginya. Bermimpilah untuk menjadi orang nomor satu, menjadi pemimpin di Republik Indonesia ini. Ini sudah pernah terjadi yaitu ibu Presiden RI Ke Lima, yaitu Ibu Megawati Sukarno Putri dan para menteri di kabinet Bapak Jokowi saat ini.
Para perempuan jangan hanya memposisikan menjadi lapis kedua atau cadangan dalam hal apapun. Aturan dan undang-undang yang ada umumnya menjauhkan diskriminasi, kalaupun masih ada di beberapa aturan... tugas perempuan lah yang mendobrak dan merubah aturan itu bersama laki laki agar bangsa ini menjadi bangsa yang besar di mata dunia.
Jangan sia-siakan perjuangan ibu R.A Kartini.
Doa saya buat para perempuan Indonesia.