Selasa, 21 Oktober 2008

Menanam Pohon Cherry.


Aku kemarin (19 Oktober 2008) baru kembali atau pulang dari Puncak Bogor. Satu minggu lamanya aku mengikuti pelatihan tentang bimbingan dan Konseling. Aku pulang ke rumah dengan sedikit lelah dan ingin istirahat. Yah… sabtu malam aku sampai kerumah, kira-kira jam 7 malam. Aku bertemu kembali dengan anggota keluarga dengan kedaan sehat dan segar.

Kira-kira jam setengah sembilan malam, aku ke rumah pak RT dan ngobrol tentang situasi perkembangan lingkungan RT ku selama satu minggu ini. Tidak ada kejadian yang menonjol, hanya kulihat pohon di depan rumah pak RT sudah dipangkas, katanya banyak semut. Wah tampilan pemandangan yang baru, kataku dalam hati.

Pertemuan itu kuawali dengan ucapan salam :”malam pak RT”, kataku.
”Oh... malam pak piter”, kata pak RT dengan senyum khasnya.

”Baru pulang yah pak Piter?”, Tanya pak RT basa-basi
”Ya... baru pulang dari Puncak, ada tugas selama satu minggu, ikut pelatihan”, kataku menerangkan.
”Wah.,. sibuk terus yah”, kata pak Rt lagi.

Kami pun mengobrol panjang lebar yang bila dikalikan menjadi luas, he..he..he..

Puas ngobrol di teras rumah, kami keluar untuk melihat jalanan di perumahan. Ku lihat pohon yang dulu pernah kami tanam. Yah, pohon Cherry kami tanam di sepanjang jalan blok kami. Supaya rindang , kataku pada saat dulu akan kami tanam.

Tapi aku melihat ke sebuah tempat,”Lho pohon yang disini kemana pak RT”?, Tanyaku.
””Kemana yah?”, malah Pak RT bertanya lagi padaku.
”Siapa yang berani mengambil pohon ini yah ”?, Tanyaku lagi.
”Saya juga nggak tahu”, kata pak RT. Wah kami mendongkol dengan hilangnya satu pohon cherry yang telah kami tanam.
Pohon yang hilang itu sudah cukup besar dan sudah tumbuh dengan baiknya. Lah, ini kog diembat orang. ”Busyet.... ini mah pencurian!”, kataku dalam hati.

Aku ingat dulu, bagaimana kami sibuk mencari pohon cherry ke ladang atau halaman orang di kampung sekitar perumahan. Kejadiannya kira-kira 3 bulan yang lalu.

Aku, Pak Rt serta Opa, seorang pensiun swasta sepakat hari itu untuk mencari pohon cherri agar ditanam di sekitar lingkungan rumah.

”Ayo pak Rt, kita realisasikan rencana kita”, kataku dengan semangat.
”Ayo, cepet dikit, kata Opa yang cukup semangat, walaupun usianya sudah 65 tahun, namun cukup energik.
”Ok, kata pak RT’, Nih, aku ganti celana dulu yah, aku pakai celana pendek dulu.
”Yah, cepet dikit yah, kataku... ”aku bawa parang pak RT yah?
”Ambil aja,” kata pak RT menyetujui. Kemudian pak RT keluar rumah, sambil membawa plastik. ”Untuk tempat pohon”, katanya sebelum kami tanya.

Kami berangkat ke arah perkampungan di luar perumahan. Di sekitar halaman yang cukup luas atau ladang yang belum diolah, kami melihat ada anak pohon Cherry yang tumbuh. Kami langsung menuju ladang itu. Aku paling depan, dan mencongkel batu-batuan yang menghimpit akar pohon cherry agar gampang dicabut.

”Nih..aku dapat satu”, teriakku pada pak RT.
”Aku juga dapat nih”,..... kata Opa dengan bangganya. ”Ini pasti tumbuh”, kata Opa lagi, ”karena akarnya masih utuh.”
Pak Rt kulihat juga sedang mencabut sebuah pohon cherri anakan.

”Wah... banyak juga pohonnya kita dapat”, kataku pada Opa dan pak RT.
”Pak Rt aja yang mengumpulkan pohonnya, yah”, kata Opa kepada pak RT
”Beres,” kata Pak RT sambil memungut dan mengumpulkan anak pohon cherry liar yang telah kami cabut.

Ada sekitar belasan pohon yang berhasil kami kumpulkan dari sekitar ladang itu.

”Untuk kali ini cukup yah”, kataku pada pak RT dan Opa
”Ok, kata Pak RT dan Opa.

Kami pulang menyusuri perkampungan. Ketika agak lama jalan, kami melihat ada warung kopi.
”Yuk minum kopi dulu”, kataku pada pak RT dan Opa.
”Yuk, ”kata pak RT. ”Perlu juga nih istriraha ,Capek juga mencari pohon cherry”, katanya lagi.
”Pesan kopi 3 gelas”, kata opa pada pemilik warung, seorang bapak setengah baya.

”Kopi apa pak”?, tanya pemilik warung.
”Kopi indocafe ada?”, tanyaku.

”Ada pak”, kata pemilik warung.

”Yah udah, pesan 3 yah, tanyaku pada Pak RT dan Opa
“Ok”, serempak pak RT dan Opa menjawab pertanyaanku.

Kulihat pemilik warung pergi ke dalam warung untuk menyiapkan kopi hangat.
“Wah.... enak sekali yah udara saat ini”, kataku.
”Iya”, kata Pak Rt. ”apalagi kita duduk dibawah pohon dan halaman warung cukup luas”, tambah pak RT lagi. Di sekitar warung, kulihat ada yang memelihara burung dan kulihat juga sesekor anak anjing gemuk sedang berkejaran dengan induknya. ”Indahnya alam ini’, batinku.

Kemudian datanglah kopi pesanan kami. ”Mmmm. Lezat, kataku dalam hati sembari kinum kopi. ”Wah, temannya mana nih”, tanyaku ?
”Itu, ada roti”, kata pak RT
”aman nggak”, tanyaku, ”apa ada masa berlakunya’, tambahku.
”Gimana roti kampung ada masa berlakunya” ? timpal pak Rt.

”Yah sudah lah mari kita makan roti,” sambil pak RT mengambil 3 roti dan memberi pada aku dan Opa. Kulihat roti kayaknya masih baru, dan kucium agak masih segar. Yah sudah kami pun makan roti dan minum kopi hangat di pagi itu.

Puas istrirahat, kami melanjutkan perjalanan pulang.
Kami pun pulang dengan mengitari rute melewati rumah pak kades.

Sesampainya kami di rumah pak RT, kami pun memilah pohon yang akan ditanam. Aku sengaja menanam pohon satuu tempat dua pohon, agar menjadi kuat dan dapat melawan terpaan angin.

” Dimana kita tanam lebih dulu” tanyaku pada pak RT
”Dirumah pak Rafael aja, kata pak RT. ” Ibunya sudah lama pengen nanam pohon Cherry, pasti dirawatnya, tambah pak RT lagi.

Aku pun menanam pohon cherry di sekitar jalan rumah ku.
”Nih Aku tanam di depan rumah pak Rafael.” Opa yang ngurus nanti yah”, kataku. Karena rumah Opa pas di depan rumah pak rafael.
”Beres”, kata opa. Ntar aku bilangi pada tuan rumah.

Ada sekita 18 pohon yang kami tanam. 1 mati karena tidak diurus yang punya rumah. Satu lagi sengaja dicabut yang punya rumah. Padahal tanah yang kami tanam bukan hak miliknya, hanya hak pakai. Dasar, ada juga orang yang sseperti ini. Kog teganya tidak menghargai hasil karya orang lain. Ini mah penghijauan kecil-kecilan, kog nggak didukung yah?

Tapi biarlah kataku dalam hati. Namanya juga manusia, pasti unik. Biasa berbeda pada beberapa segi. Itulah keagungan Tuhan akan ciptaanya. Jadi tidak ada hak atau wewenang seorangpun yang bisa menyeragamkan tingkah laku manusia. ”Emang robot.”!

Hasil karya kami sekarang sudah bisa kami nikmati. Beberapa pohon tumubuh sangat subur, misalnya di depan rumah mas Rafael dan di depan rumah pak RT yang saban hari si siramMudah-mudahnan hasil karya kecil kami ada manfaatnya bagi lingkungan dan dun

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar